Catatan rdh

menggambarkan apa yang dilhat, menyampaikan apa yang didengar dan meluahkan apa yang dirasa

Lelaki Tangguh Sang Penjaga Lautan Agustus 26, 2008

Filed under: perjalanan jurnalistik — rinahasan @ 10:37 am
Tags:

Perjalananku selama empat hari di Surabaya dan beberapa tempat di Jawa Timur memang meninggalkan kesan yang mendalam, ada beberapa catatan yang sempat tertuliskan saat di Kota Pahlawan tersebut. Ini dia dan selamat menikmati.

 

Lelaki Tangguh Sang Penjaga Lautan

 

Lelaki tampan yang gagah menatap penuh wibawa kearah lautan, matanya yang tajam menunjukkan keteguhan hati untuk mempertahankan lautan dan wilayah maritim Indonesia dari musuh dan perompak, pakaian seragam yang dikenakannya dan pedang kebesaranya menunjukkan keberanian dan penantangan bagi siapapun yang akan menganggu Negara yang terdiri dari lautan dan kepulauan ini, dan sikapnya yang santun menunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang berbudi.

 

Lelaki itulah yang kutemui saat berada di wilayah Markas Komando Armada RI Kawasan Timur yang berada di ujung kota Surabaya  propinsi Jawa Timur (19/8), perjalanan ke propinsi Jawa Timur ini dimulai dengan mengunjungi museum Jalasveva Jayamahe yang berada dalam kawasan angkatan laut di Surabaya. Dan Lelaki gagah itu merupakan bagian terpenting dari keberadaan museum ini.

 

Museum Jalasveva Jayamahe terdiri dari dua bagian, bagian pertama terdiri dari gedung museum yang tingginya mencapai 29 meter dan diatasnya monument patung perwira angkatan laut setinggi 31 meter. ‘’sehingga ketinggiannya mencapai 60 meter, monume tertingggi kedua setelah patung liberty di Amerika, ‘’ujar Kepala Dispen Koarmatim Letko Laut Drs Toni Syaiful melalui Teddy Sujana yang merupakan guide dari satuan angkatan laut menjelaskan saat rombongan sampai di depan museum.

 

Menurutnya museum yang dibangun dibagian ujung barat dermaga Madura ini selain digunakan untuk menjelaskan perkembangan angkatan laut Indonesia juga digunakan sebagai menara lampu pemandu (Mercusuar) bagi kapal kapal yang berlayar sekitarnya, dan sejauh mata memandang di kawasan yang mencapai 50 hektar ini terdapat ratusan kapal mulai dari ukuran terkecil yang merupakan kapal pemandu untuk merapat bagi kapal besar hingga kapal kapal ukuran raksasa, bahkan Kapal penisi Dewa Ruci kebanggan Indonesia juga menjadikan kawasan ini rumahnya saat berisitrahat dari mengelilingi Indonesia. Sayangnya saat itu kapal tersebut sedang berlayar mengelilingi Indonesia

 

Jenis kapalpun beragam, mulai dari kapal perang, kapal selam, kapal angkut armada, kapal tanker dan sebagainya. Ratusan kapal tersebut berjejer di dermaga sehingga menimbulkan suasana tersendiri, lambing garuda dan bendera Indonesia terpasang disetiap kapal tersebut. ‘Kapal ini memang banyak kapal tua yang dibeli dari Amerika, Jerman dan Rusia, namun beberapa dari mereka sudah diperbaiki, ‘’jelas Tedy.

 

Kembali ke Monument Jalasveva Jayamahe, monument ini dbangun untuk mengabadikan perjalanan angkatan laut Indonesia, peletakkan batu pertama dilaksanakan tanggal 5 Desember tahun 1990 dan diresmikan pada hari armada RI (TNI AL) pada tanggal 5 Desember 1996 oleh presiden Soharto. Dengan tangan dingin arsitek Drs Nyoman Nuarta dan kawan kawannya yang tergabung dala  Nyoman Nuarta Group monument ini mampu menjadi bangunan yang memberikan warna sendiri di kota Surabaya. Dan ternyata pembangunannya memerlukan dana yang sangat besar yang merupakan swadaya  warga TNI AL, masyarakat dan sponsor lain yang tertarik dan mempunyai kecintaan kepada lautan Indonesia.

 

Dalam gedung Musium tersebut terpampang foto foto yang menceritakan perkembangan angkatan laut di Indonesia, terutama di kota Surabaya, karena Surabaya sejak dahulunya sudah dikenal sebagai kota Pelaut, selain  foto foto juga terdapat miniature berbagai kapal yang ada di Indonesia, sangat menarik untuk dipelajari.

 

Museum ini terdiri dari beberapa lantai dan disetiap lantai dihubungkan dengan tangga yang cukup banyak, dan akhirnya membawaku ke bagian tertinggi dimana sang perwira berdiri gagah mengawasi lautan. Dengan ketinggian tubuhnya mencapai  31 meter sang perwira yang merupakan  seorang perwira menengah  TNI Al dengan pakaian lengkap (tenue PDU-I ) ia menatap lautan seakan akan menyatakan dirinya adalah sang penjaga lautan.

 

‘Kenapa pedangnya tidak diangkat Pak? Kan lebih gagah kalau pedangnya diangkat dan sekaan akan menantang, ‘’tanyaku penasaran.

‘Awalnya direncanakan begitu, namun sikap seperti inilah yang akhirnya dipilih, menunjukkan kewibawaan dan budi pekerti, ‘’jawab Teddy lagi.

 

(yah..budi pekerti, karena budi itulah makanya  satu persatu pulau di Indonesia lesap juga diambil Negara tetangga, lihat saja sempadan, lihat saja Linggitan semuanya lesap sudah..) kataku dalam hati,  benar benar hanya dalam hati. Dengan seksama ku amati wajah sang perwira gagah itu, benar sangat santun. Harusnya Indonesia membuat monument perwira yang lebih gagah, bukankah perompak butuh polisi yang sangar juga. Ingatanku  melayang pada cerita kapten Hock dan Peterpan. Agaknya  kita bangsa peterpan juga.

 

‘’Ini adalah gambaran cita cita setiap perwira dan warga AL untuk menjaga lautan Indonesia dari musuh maupun perompak, untuk itu kita tidak mengkultuskan sosok seseorang namun melambangkan perwira AL saja  ‘’ujar Teddy lagi.

Nama ‘Jalesveva Jayamahe’’ sendiri diambil dari semboyan para angkatan laut yang berarti: Justru di Laut kita berguna ‘;, semboyan ini juga yang dipakai Yos sudarso dalam berbagai perang untuk mempertahankan wilayah RI.

 

 Dan Surabaya  adalah kota Pelaut, Surabaya memiliki pelabuhan Tanjung Perak yang terbesar kedua setelah tanjung Priok Jakarta. Pelabuhan dan armada angkatan laut dibangun oleh pasukan Belanda, sehingga tidak mengherankan bangunan yang ada dalam kawasan itu masih berupa bangunan peninggalan Belanda.

 

‘’Namun untuk kantor, gudang dan rumah perwira masih memakai bangunan lama peningalan colonial Belanda, hanya saja ada bangunna itu yang direhab kembali karena sudah terlalu tua namun tetap mengikuti model yang ada sebelumnya, satu satunya bangunan modern adalah flat untuk 10 ribu personil dan keluarga angkatan laut yang ada disini, ujarnya.

 

Lalu apakah hanya sampai disitu? Ternyata tidak, satu lagi daya tarik yang dimiliki oleh museum ini yaitu Gong raksasa yang berdiamter 5 meter dengan ketebalan 6 mm. Gong yang bernama Kiai Tentrem ini  mempunyai berat 2,2 ton yang bahannya terdiri dari  kuningan dilapisi anti karat (cotting) yang merupakan  hasil home industri  Sutadrjo. Gong ini sekilas mirip oghoung kebesaran yang dimiliki setiap persukuan di Kampar.

 

Sebelum meninggalkan monument itu sekali lagi aku menatap dalam wajah sang perwira, aku benar benar berharap ia mampu menjaga lautan negeri ini. Tolonglah Tuan perwira… negeri ini begitu kaya..lautannya begitu luas… jagalah..dari perompak dan penyamun…tolonglah..aku..dan bangsa ini berharap padamu..pada semangat semua perwira yang ada ada dan hidup saat ini, tidak hanya dilaut, tapi juga didaratan dan di udara. Jagalah negeri ini….

 

Surabaya, 20 Agustus 2008

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s