Catatan rdh

menggambarkan apa yang dilhat, menyampaikan apa yang didengar dan meluahkan apa yang dirasa

Pernikahan Puji, Peringatan untuk Orang Tua Oktober 29, 2008

Filed under: Artikelku — rinahasan @ 10:09 am

Pernikahan spektakuler Syekh Pujiono, pimpinan Ponpes di Semarang yang Kaya raya ini memang menghebohkan karena ia menikahi anak yang masih berumur 12 tahu, selain masih bocah ingusan pernikahan mereka masih sebatas pernikahan sirri dan untuk dijadikan Istri kedua. Kontan saja pernikahan ini melahirkan berbagai respond dan respon yang terbesar adalah mengecam dan menentang keras pernikahan itu.

Tentangan ini sangat wajar dan sangat masuk akal, sayapun secara pribadi sangat tidak menyetujui pernikahan ini, karena walaupun Puji kepada media menegaskan ini semata mata tidak bertentangan dengan agama, dan juga pernah dilakukan Rasulullah, namun bagi saya itu hanyalah alasan yang mengade-ade sahaja, dan alasan yang disampaikan oleh Pujiono yang lebih pantas disebut ‘’Manusia aneh ‘’daripada Syekh, adalah alasan berlandaskan keinginan (nafsu) semata.

Namun lebih dari itu, saya tertarik membahas pernikahan Puji ini dari sudut yang lain, pertama dari sudut anak, dulunya Khalil Gibran mengatakan : anak anakmu adalah anak anak Tuhan..maka……, Namun saat ini dengan adanya Undang undang perlindungan anak maka kalimat itu ditambah: anak anak itu adalah anak anak Negara, anak anak masyarakat dan semuanya karena semua wajib melindunginya.

Anak dalam pandangan hokum Negara belum bisa mengambil keputusan apa apa, maka keputusan baik yang berhubungan dengan hokum biasanya ditangani orang tuanya, dalam Islam juga begitu, bagi anak perawan maka berlaku Wali Mujbir, dimana orang tua berhak menikahkah anaknnya tanpa persetujuan anaknya (maaf kalau kurang tepat)

Maka kunci utama disini adalah : Orang TUa. Harusnya orang tua bisa memahami kebutuhan anaknya dengan baik atau membuat keputusan yang tidak akan menganiaya anaknya. Dalam kasus pernikahan Puji, harusnya orang tua anak itu tidaklah menikahi anaknya dengan laki laki yang lebih pantas disebut Ayahnya…lagipula apakah anaknya benar benar mau menikah? Disaat teman temannya masih asyik bermain…

Disini kembali ke kunci utama, orang tua. Setiap orang tua pasti inginkan anaknya bahagia, dan bagi orang tua anak ini, menikah dengan orang sekaya Puji akan membuatnya bahagia, apalagi dengan kondisi ekonomi mereka yang miskin maka kebahagiaan akan lebih nyata dengan pernikahan itu.

Benarkah itu? Satu sisi itu sah sah saja, karena dalam pemahaman mereka jalan itulah yang benar, apalagi tingkat pendidikan mereka selama ini membuat mereka tidak bisa berfikir tentang kesetaraan gender, apalagi feminisms. Maka wajarlah mereka berfikir seperti itu.

Harusnya…orang orang sekelilingnya lah, Kaum kerabat, ketua RT. Masyarakat sekitar yang harusnya memberikan pemahaman, kalau perlu KPAI, Komnas anak dan sebagainya memberikan pemahaman, bukan dengan serta menyalahkan saja, karena pemikiran sarjana dan orang yang mempunyai pekerjaan yang mapan sangatlah berbeda dengan mereka yang pendidikan biasa saja.

Dari sisi lain, saya malah memandang ini adalah satu cara oleh Tuhan untuk memberikan pelajaran bagi kita semua, pertama bagi pemerintah, ternyata…begitu masih menyedihkannya nasib kehidupan masyarakat kita, hal yang mengharu biru itu tidak hanya ada dalam film Laskar pelangi saja, namun juga pada film nyata Pernikahan Puji ini.

Harusnya pemerintah menyadari beginilah kemiskinan masyarakat kita sehingga untuk kebahagiaan anak saja orang tua harus rela menikahkan anaknya dengan lelaki yang pantas disebutnya Ayah..ini tanggung jawab utama pemerintah bukan untuk menentang pernikahan ini tapi memerangi sumbernya..yaitu kemiskinan.

Kedua ini adalah pelajaran bagi orang tua, sebagai orang tua (kita semua) menjadikan ini sebagai pelajaran, setidaknya bagi anak anak kita, menyadari kebutuhan dan keinginan bukan hanya dari sisi kita sahaja, namun juga dari sisi kebutuhan batin anak anak kita.

Maka hendaknya… sebagai orang tuan membekali diri dengan dengan pemahaman, bahwa anak anak kita akan bahagia dengan pilihan mereka, dan kalau mereka sudah mendapatkan dan memilih jalan itu, kita harus bisa memastikan..pilihan itu bukan karena kekurangan harta dan kekurangan makan, bukan karena kekurangan pemahaman dan inginkan ketenaran namun pilihan yang diyakini mereka kebenarannya. Semoga!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s