Catatan rdh

menggambarkan apa yang dilhat, menyampaikan apa yang didengar dan meluahkan apa yang dirasa

Ketika Balimau Kasai Digugat (Lagi….) Maret 17, 2010

Filed under: adat kampar — rinahasan @ 3:22 am
Tags: , , , , , , , ,

Harusnya Kita Sudah Tersadar

Ada hal yang menarik ketika  pertemuan antara kantor Depag Kampar dengan Pemkab Kampar di Bangkinang Jumat (12/3)  pekan lalu, dalam pertemyan ini Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Riau, Drs H Asyari Nur, SH, MM secara halus (namun mengenaaaa banget) memberikan kritik membangun tentang pelaksanaan acara budaya Balimau Kasai yang dinilainya beberapa tahun terakhir telah sedikit berubah dari tradisi balimau kasai sesungguhnya.

Menurut Ketua Tariqat Naqsabandy tersebut harusnya pihak-pihak berkompeten di Kabupaten Kampar seperti  Pemdakab, ninik mamak, tokoh agama, generasi muda mengemas acara balimau kasai itu jadi acara budaya bernuansa agama. ‘’Kan, aneh, bila pemuka adat tepatnya ninik mamak dan aparatur pemerintah melihat anak keponakan mandi-mandi di Sungai Kampar. Menonton orang mandi itu bukan bagian dari budaya balimau kasai, ujar Asyari Nur sambil tersenyum.

Dulu….menurutnya  pada awal acara balimau kasai yang diketahuinya saat salah satu muridnya datang kerumah guru ngaji untuk meminta maaf sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Sedangkan seluruh lapisan masyarakat secara sadar dan ikhlas mendatangi orang-orang tua di kampung, para tokoh agama dan tokoh adat untuk saling bermaaf-maafan dengan diiringi rasa kekeluargaan yang mendalam, kebersamaan yang hakiki yang diperlambang dalam bentuk makan bajambau.

’’ Jadi mengapa kedepan tradisi Balimau Kasai tidak dikemas dalam nuansa agama seperti menggelar acara khattam Al-Qur’an, pemberian santunan untuk anak yatim, pemberian bantuan untuk orang-orang miskin, bantuan untuk anak-anak berprestasi dibidang pendidikan atau pun pemberian penghargaan bagi pemuka agama dan tokoh masyarakat yang pantas diberi penghargaan atau memberikan modal usaha bagi keluarga miskin dan kegiatan gotong royong pembersihan tempat-tempat ibadah dan lembaga pendidikan agama serta melaksanakan acara hiburan bernuansa tradisi dan sekaligus bernuansa agama ’’ usulnya

Kritikan yang disampaikan  Kakanwil Depag ini sebenarnya bukan kritikan yang pertama tentang kegiatan Balimau Kasai, banyak pihak yang sudah mencoba mengingatkan tentang betapa Jauhnya tradisi budaya itu bergeser bahkan sudah tidak bisa disamakan antara balimau kasai dulu dan sekarang.

Tapi sayangnya gugatan demi gugatan bahkan yang disampaikan ulama sekalipun sepertinya tidak mampu membangun Pemkab atau masyarakat yang sudah tertidur dibuai dengan istilah event budaya (entah budaya mana itu…) Balimau kasai saat ini adalah kegiatan seremonial kedatangan pejabat baik tingkat propinsi atau kampar, lalu ada lomba sampan hias dan acara inti…mandi mandi..berbaur lelaki perempuan didepan Mamaknya, bersama ughang somondo, hilang sudah malu…….

Yang mengherankan ini malah digadang-gadangkan, walaupun sudah dibungkus dengan aneka lomba seperti lomba azan, rebana dan sebagainya namun kegiatan mandi bareng tetap acara utama..dan dikatakanlah ‘’ kegiatan pariwisata kampar ‘’  .

Pernyataan ini yang membuat saya heran..pariwisata dari mana? Wong ndak ada turisnya, jangankan turis luarnegeri..luar Kabupaten Kampar juga tak ada, kalaupun ada yang datang dari Pekanbaru ..itu ughang Kampar Juga. Lebay…..

Dan yang lebih heran lagi, dalam diskusi saya denga salah satu staff dinas pariwisata Kampar malah merencanakan akan memajukan pelaksanaanya dua atau tiga hari sebelum ramadhan, dengan alasan agar tidak menganggu sholat tarawih pada malam pertama ramadhan karena seremonial dengan pejabat cukup lama dan menyita waktu dan dengan lapangnya hari maka akan banyak kesenian yang bisa ditampilkan.

Walaupun alasannya kedengaran logis namun menurut saya preeeettttt….nggak mutu. Lha iya lah, balimau kasai itu bukanlah acara seremonial dan bukan untuk tari-tarian, namun esensialnya adalah pembersihan diri seperti minta maaf kepada orang tua dan saudara-mara, mengunjungi orang tua dan sanak yang laim. Lagipula siapa suruh melaksanakans eremonialnya petang hari..wong zaman dahulunya kegiatan dimulai pagi hari dimana para Ninik mamak dikenegerian naik ke balai adat dan saling berunding untuk kegiatan pembangunan setahun berikutnya…..lalu sekitar usai dhuha mereka pulang saling bersilaturahmi dan ba’da asyar mandi membersihkan diri ditepian masing masing….

Lalu darimana datangnya pacu sampan hias yang habisnya uang daerah berjuta-juta bahkan ratusan juta, darimana datangnya acar seremonial dan darimana datangnya mandi bareng? ……hmmmm jalan dianjak orang yang..ontahlah…

Banyak pihak sudah mengingatkan namun sayangnya yang tidur ini sangat lelap bahkan munkin ngorok sehingga tidak terdengar orang yang menjagakan, entahlah kalau dengan kritikan dari kakanwil depag ini..karena saat itu wajah wajah pejabat yang hadir cukup memerah..semoga ya Pak…….

Kampar 17 maret 2010

-Ummu Bintang-

 

6 Responses to “Ketika Balimau Kasai Digugat (Lagi….)”

  1. khuzairi Says:

    sepengetahuan saya dan beberapa artikel serta buku yg pernah saya baca, Balimau kasai tidaklah ada syariatnya dalam islam. tidak ada istilah mandi balimau mau masuk ramadhan dalam Islam, dan hukum mandi mau masuk ramadhan tidaklah sunnat, yang sunnat mandi itu adalah mandi sebelum sholat jum’at. Tidak ada satupun dalil yang menjelaskan tentang anjuran mandi sebelum masuk ramadhan. untuk itu tidaklah perlu dibuat-buat syariat baru dalam penyambutan ramadhan karena itu artinya kita ingin menandingi syariat Allah SWT (karena ini berbau ibadah lho, kalau hukum2 dunia sih monggo2 wae). Oleh karena itu mari kita ikuti tatacara rasulullah SAW dalam menyambut Ramadhan (baca buku dan dengerin ceramah ustadz), jika kita tidak mengikuti tuntunan dari rasulullah SAW khususnya dalam beribadah kepada Allah, maka jelaslah akan tersesat. Untuk itu saya mengusulkan tidak perlu adalagi Mandi Balimau Kasai itu, persiapkan saja jasmani dan rohani serta kelengkapan ILMU untuk melaksanakan dan memperbanyak amalan-amalan Ramadhan. Hal ini yang mestinya menjadi himbauan pemda Kampar.

    • rinahasan Says:

      ya saya setuju bahwa tidak ada syariat Islam yang menganjurkan untuk mandi sebelum ramadhan. dan Balimau kasai adalah bukan kegiatan agama namun tradisi adat. dan sekedar sharing saja dalam balimau kasai juga tidak ada kegiatan mandi (dulu dan pada awalnya) lalu kenapa diberi nama Balimau kasai, karena parea anak kemenakan dan keluarga datang kerumah ninik mamak dengan membawa makanan dan minuman dan juga limau dan kasai sebagai lambang pembersihan, itu saja, esensial dari balimau kasai sendiri adalah silaturahmi dimana seluruh masyarakat saling minta maaf atas semua kesalahan sebelum ramnadhan, balimau kasai yang diidentikan denga mandi baru 15 tahun belakangan ini (dan sayangnya) diamini pemerintah. Kalau dihapus…hmm saya kurang setuju karena itu adalah khazanah budaya, hanya saja perlu kerja keras dan komitmen dari semua pihak untuk mengembalikan pada kegiatan awal. salam

  2. Trio Says:

    tradisi blimau bkasai adalah kebanggaan masyarakat kampar…….d mana kita selaku orang yg beradat sudah seharusnya kita menjunjung tinggi akan kebudayaan kita…..tp sekarang arti blimau bkasai itu sudah tdk sesuai lagi d ucapkan sebagai hari menyucikan diri krn nama itu sudah d rusak oleh para kaulamuda kampar sendiri….d mana hari blimau bkasai d jadikan sebgai ajang kemaksiatan tapi itu tergantung individu masing, ditinjau dan ditelaah dari sisi agamis, kehancuran agama bukanlah tergantung apa yang telah kita perbuat, itu tergantung dari diri sendiri, kehancuran adat bukan bermasalah dengan adatnya tapi bermasalah dengan ninik mamaknya kampar…… sebab bagaimanapun balimau adalah suatu komunitas yang secara hirarki menganut paham agamis yang melekat, jadi ketika maksiat terjadi itu bukan acara balimauyang harus disalahkan… Lihat Selengkapnya, dapat kira perhatikan, diluar acara tersebut pun banyak manusia yang membuat kezaliman, bukan balimau yang menodai kemaksiatan tetapi kemaksiatan itu sendiri yang menodai acara balimau kasai, jangan salahkan kemarau yang berkepanjangan, salahkan ulah tangan manusia yang tidak memperhatikan kehancuran yang akan datang.

  3. Muhammad Sukri Says:

    Saya sebagai generasi muda kampar merasa sangat miris dengan tradisi-tradisi, adat-adat kampar sekarang yang mana sangat jauh dari syari’at Islam. Bagaimana tidak, coba lihat saja acara untuk menyambut bulan yang paling suci yakni Bulan Ramadhon masyarakat sekarang merayakannya dengan cara mandi bersama tanpa melihat mana yang baik dan buruknya lagi, tradisi pernikahan sekarang bisa kita lihat juga bagaimana masyarakat sekarang sudah tidak memperdulikan yang ini dilarang agama, yang ini boleh oleh agama. yang jelas saya tidak perlulah menjelaskannya satu-persatu karna kita sudah pada tau…:)
    Saya beharap untuk kedepan pemerintah Kampar beserta masyarakat saling bantu-membantu dalam mengembalikan adat-istiadat yang lebih berpedoman kepada syari’at Islam, sebagaimana dahulunya masyarakat kita Kampar menjalankan/melaksanakan adat-istiadat tersebut.

    Perlu diingat sebagaimana khalayak umum masyarakat Riau mengetahui kalau sebutan dari Kampar itu sendiri adalah (Negeri Serambi Mekkah Riau). Masihkah Kampar layak disebut dengan sebutan tersebut???
    Insya Alloh kedepan mudah-mudahan Alloh menolong kita semua untuk membangun Kampar yang lebih berakhlak dan makmur. Amin Ya Alloh….:):):)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s