Catatan rdh

menggambarkan apa yang dilhat, menyampaikan apa yang didengar dan meluahkan apa yang dirasa

Anti Poligami bukanlah…Menentang Agama Maret 25, 2010

(Tidak Menyetujui Bukanlah berarti Menentang)

Kamu mau ndak dipoligami? ‘’tanya seorang teman petang itu, ‘’ Nggak ah, aku anti poligami’’ujarku tegas.. lhoo kalau kamu anti poligami artinya kamu menentang agama dunk…kan agama sendiri membenarkan poligami malah menganjurkan ‘’ujarnya mengingatkan. Aku tersenyum masam dan berkata: ‘’ aku tidak suka poligami namun aku tidak menentang agamaku…karena tidak menyetujui bukan berarti menentang lho….dan jujur saja..aku tidak sanggup untuk berpoligami atau dipoligami…..

Poligami memang menjadi tema yang menarik untuk diperbincangkan dan menarik juga untuk dilaksanakan he he he. Sehingga untuk bisa melegalkan pernikahan lebih dari satu istri para suami yang akan berpoligami… (tidak semuanya) melakukannya atas nama agama…, dan berlindung dibalik ayat itupula .pernikahan kedua, ketiga dan keempat dilaksanakan. Dan itu tidaklah salah…karena memang Allah SWT dalam al-Quran surat an-Nissa menyatakan bahwa para pria disarankan (dibolehkan) menikahi dua, tiga atau empat wanita dengan syarat bisa ADIL.

Hmmm… saya tidak akan mendiskusikan tentang ayat ini dan ayat-ayat atau hadis lain yang berhubungan dengan poligami ini, selain saya belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang itu, saya juga tidak mau salah dalam membahas dan menafsirkan tentang ayat dan hadis tersebut, biarlah kita bahas dengan Ustad atau mereka yang lebih memahami ilmu agama .

Saya hanya ingin mengupas statement teman saya yang menyatakan ‘’saya menentang agama’’ jika saya menolak berpoligami, sementara saya berfikir (lebih tepatnya merasa) tidaklah begitu, karena TIDAK SETUJU BUKAN BERARTI MENENTANG.

Alasan pertama saya, dalam ayat di surat an-Nissa tersebut ditujukan kepada lelaki bahwa mereka bisa atau boleh menikahi lebih satu wanita, dan dalam ayat tersebut tidak disebutkan bahwa wanita HARUS MENERIMA ‘’dirinya dipoligami dan entah karena ilmu agama saya yang kurang atau saya kurang membaca ..saya juga belum menemukan adanya ayat atau hadis yang memerintahkan perempuan WAJIB menerima dirinya dipoligami.

Alasan kedua, kita bisa saja tidak menyetujui sesuatu bukan berarti menentangnya bukan? Karena TIDAK MENYETUJUI tidaklah sama dengan MENENTANG. Tidak Menyetujui menurut saya lebih berarti kepada tidak menerima, tidak sepaham, tidak sefikiran dan tidak seide. Namun Menentang menurut saya berarti adalah tidak menginginkan itu ada, melawan dan lebih berarti kepada gerakan untuk melawan, sehingga kalau perlu melakukan sesuatu untuk melawannya. Misalkan saja kita menentang sesuatu sikap/politik seseorang maka kita akan melawannya dengan keras, berusaha agar pemikirannya itu tidak diterima orang lain. Sementara tidak menyetujui lebih kepada menghindarinya, tidak mau terlibat sementara bagi yang lain..ya terserah mereka sajalah.

Lalu dikaitkan dengan Poligami, saya menyadari betul..bahwa poligami dibenarkan (dibolehkan) dalam agama dan sebagai Hamba Allah saya tidak akan menyatakan itu salah atau tidak benar atau berusaha itu tidak ada.

Hanya saja… karena juga tidak ada kewajiban untuk mengikuti hal itu, maka saya memutuskan untuk tidak setuju..dan TIDAK MELAKSANAKAN poligami tersebut, jujur lebih karena alasan ketidaksanggupan mental dalam melaksanakan itu. Daripada hati ini selalu dongkol dan melawan kepada suami (sementara melawan suami dosanya amatlah besar), daripadai selalu curiga kepada suami (kalau sudah tidak dipercayai istri lalu siapakah lagi yang percaya pada suami? ) daripada saya tertekan batin mengurusi rumah tangga dan anak-anak…kan lebih baik saya memilih menolaknya..lalu apakah itu yang disebut menentang agama? Apakah Agama lebih memilih memaksa umatnya menderita daripada hidup tenang?

Namun saya tidak akan menentang, saya tidak akan memarahi, membenci atau memusuhi mereka yang berpoligami dan dipoligami, saya akan tetap menjalin silaturahmi secara baik sebagai sesama hamba Allah, hanya saja saya akan berusaha (semoga selalu begitu) untuk tidak terlibat dalam poligami, baik menjadi yang dipoligami maupun yang memberikan izin untuk berpoligami. Saya menghormati mereka yang berpoligami namun saya juga ingin dihargai bahwa saya tidak berpoligami. Lalu inikah yang disebut menentang agama? Lalu bagaimanakah kalau (kalau..) itu muncul dalam rumah tangga saya..?, saya akan memilih menghormati keputusan itu dan menjalankan keputusan saya. Artinya… silahkan berpoligami namun saya tidak akan ikut terlibat dan bisa dipoligami, biarlah saya yang undurkan diri, toh dalam Islam istri dibenarkan mengajukan pilihan untuk berpisah dengan beberapa alasan, termasuk berpoligami. Jadi biarlah itu yang menjadi pilihan. Lalu ..apakah ini yang disebut menentang agama?.

Lalu kalau ada yang mengulurkan tangannya untuk mengajak saya berpoligami dengan nomor urut berapapun itu (1,2,3 dan 4) dengan alasan seindah apapun, dengan dalil setaat apapun, dengan izin seikhlas apapun, dan dengan atas nama cinta sedalam apapun,…dengan berat dan bertetap hati akan saya katakan : Terimakasih dan Tidak. Diduakan atau menduakan akan meninggalkan luka yang sama dan akan sama sama terluka……sebesar apapun kadarnya itu. Lalu itu menentang agamakah juga namanya?

Dan alasan terakhir (ini alasan sok pintar saja yaaa), Allah selalu membuka pintu surga untuk semua hamba-Nya yang berbakti kepadanya dan mendapat keridhaan-Nya, dan keridhaan Allah bisa didapat dengan berbagai cara, sholat yang khusuk, puasanya orang yang sholeh, dermawannya orang yang berharta, sabar orangnya miskin, kerendahan hatinya orang yang berilmu, adilnya pemimpin dan lain-lainnya..lalu apakah dengan tidak menyetujui poligami..pintu keridhaan yang sekian banyak itu akan tertutup semuanya untukku? Dan aku-aku yang lain yang hingga akhir hayat mereka tidak menyetujui poligami? Bagaimana jika yang tidak setuju dipoligami itu adalah hamba berilmu yang sangat tawadhu, bagaimana kalau dia adalah hartawan yang sangat dermawan, bagaimana kalau dia adalah simiskin yang sangat sabar……apakah juga tertutup pintu surga untuknya?

Munkin ini adalah alasan yang terlalu sentimental dan perasaan lemah wanita, tak masalah jika ada yang bicara dan berpendapat begitu, namun bagi saya menikmati dan menjalani pilihan yang menenangkan diri sendiri adalah lebih baik daripada memaksa untuk sesuatu luar biasa yang terkadang membuat kita jatuh bangun melaksanakannya. Semoga Allah memaklumi kelemahan saya sebagai hamba-Nya dan semoga Allah menerima bahwa tidak sedikitpun terbentik dalam hati saya untuk menentang-Nya..sekecil apapun itu. Amien.

Kampar, 24 Maret 2010 -Ummu Bintang-

 

7 Responses to “Anti Poligami bukanlah…Menentang Agama”

  1. khuzairi Says:

    sebaiknya menerima saja hukum2 Allah, memang Allah membolehkan untuk poligami titik. Tidak ada ikhtilaf ulama untuk itu kan ? kalau ikhtilaf ustadz sih mungkin banyak… tetapi yang ulama saya kira tidak ada.

    Ketika meyakini Islam adalah agama yg benar dan diawali dg syahadat, maka konsekuensinya adalah tidak ada satupun ketetapan Allah yg kita tdk setujui atau menentangnya atau menolaknya, dan meyakini rasul pembawa syariat Allah itu adalah Nabi Muhammad SAW. Sanggupkah kita mengatakan ” saya tidak setuju kalau Nabi Muhammad itu beristri lebih dari satu dan saya tidak menyukainya.” mungkinkah itu ? Jadi selaku hamba yg bersyukur wajib hukumnya menerima segala syariat yang telah ditetapkan oleh Allah, jika saat ini kita “belum bisa menerima ketetapan syariat itu” solusinya bukanlah tidak menyetujuinya tetapi adalah memperdalam ILMU AGAMA ISLAM, karena pemahaman itu terjadi hanyalah disebabkan oleh kurangnya pemahaman kita terhadap Islam. Jika telah mendalami Islam dengan benar saya yakin tidak ada lagi kata2 yg keluar yg mnyatakan “tidak setuju”. Mohon maaf saya “sangat ngeri” dengan perkataan ini. Wallahua’lam. Assalamualaikum.

    • rinahasan Says:

      salam,,terimakasih ats pendapatnya, dan saya menerima itu..ya saya masih perlu belajar untuk memperdalam agama. Tapi ..Isam juga tidak pernah memaksa umatnya untuk sesuatu yang membuatnya menderita, Rasulullah sendiri tidak pernah melarang putrinya Fatimah yang meminta Ali berjanji padanya untuk tidak berpoligami…bagaimana anda menyikapi hal ini

  2. yuningsih Says:

    Memang benar poligami itu syariat dari Allah dan saya tidak menentangnya. Kebetulan sudah dua kali sy dipoligami. Dan rasanya? sakit luar biasa. Untuk memilih berceraipun tidak mudah, anak2 sy yg masih kecil pasti jadi korban. Dilanjutkanpun, beraaattt. Sekarang, meskipun katanya suami sudah tidak bersama istri2 mudanya, tak mudah menata hati yg sudah remuk. Akhirnya rumah tangga sy hambar.

  3. joko123 Says:

    akal……adalah materi yg terbatas kemampuannya………..sedangkan khalik adalah pencipta segala sesuatu..sudah mengetahui sebelum dan sesudah….awal tiada akhir.apakah pantas otak yang volumnya tidak lebih dari 1500 cm3 diperbandingkan dengan penguasa jagat raya ini……..istghfarlah………kalau anda tidak mampu menerimanya bukan berati anda harus membentuk kelompok serta sibuk mencari pembenaran dengan pendapat anda……., hukum allah diturunkan ada dasarnya carilah ilmu yng banyak.karena hukum allah yg diturunkan tidak pernah bertentangan dan jgn pernah untuk mencoba mempertentangkannya…….

  4. Sastra Says:

    Halo,

    saya secara tidak sengaja terbawa ke blog ini setelah searching tentang islam dan poligami di google. Jujur saja, saya seorang laki2 dan saya seorang non-muslim. Hanya saja saya menjadi tertarik tentang topik Islam dan Poligami setelah melihat di berita tentang Limbad sang mentalis yang dilaporkan ke polisi oleh istrinya atas alasan berzinah.

    Tapi kemudian Limbad mengelak dengan berkata bahwa dia tidak berzina, melainkan sudah nikah siri secara diam2. Jujur saja… ketika mendengar kata-kata Limbad saya langsung spontan berpikir… OMONG KOSONG!! Nikah siri apa? kalo nikah siri kenapa diam2… kenapa tidak menanyakan persetujuan istri pertama dulu??

    Tanpa bermaksud untuk menghina agama Islam… tapi saya sangat merasa sebagai laki2… bahwa ajaran Islam yang menyetujui poligami itu sangat mudah digunakan oleh pria2 yang tidak bertanggung jawab untuk, maaf ya… berzina secara legal… dan bagi saya yang sangat dirugikan itu tidak lain adalah pihak wanita.

    Okelah poligami itu diijinkan oleh Islam, tapi coba kita lihat… apakah benar seorang wanita muslimah dapat benar2 secara tulus dan rela mengijinkan suaminya untuk berpoligami?? Kita ambil contoh yang paling nyata… AA Gym, setelah beristri muda, istri pertamanya Teh Ninih kemudian menggugat cerai…

    Jika saya tidak salah, syarat utama untuk boleh berpoligami itu bahwa sang pria harus adil kepada istri tuanya… tapi kita lihat bahkan Aa Gym, seorang ustad yang sangat terkenal yang seharusnya sudah mampu mengamalkan seluruh ajaran Alquran, dan hapal isi Alquran luar dalam, istrinya tetap menggugat cerai dia… berarti muslim selevel Aa Gym pun telah gagal untuk bersikap adil terhadap istri pertamanya..

    Sekali lagi saya tidak ada maksud untuk menghina agama Islam dan ajarannya… hanya saja saya merasa sangat kasihan kepada wanita2 muslimah yang mungkin dikhianati oleh suaminya yang berzinah, tetapi selalu ditekan oleh ayat poligami yang memberatkan dia. Bahkan mungkin wanita muslim banyak yang dituduh menghujat Islam jika tidak setuju…

    Saya merasa kita ini sekarang sudah di jaman modern, seharusnya hal2 seperti ini lebih dibahas secara terbuka.

    Salam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s