Catatan rdh

menggambarkan apa yang dilhat, menyampaikan apa yang didengar dan meluahkan apa yang dirasa

April 12, 2010

Filed under: adat kampar — rinahasan @ 10:36 pm
Tags: , , , ,

Penghulu dan perangkat adat lainnya di Kampar akan memegang jabatan selama hidupnya, Namun ada lima alasan atau kondisi yang menyebabkan seorang Penghulu/Ninik mamak kehilangan jabatannya. Lima hal itu adalah:


Pertama Meninggal Dunia atau Osongan Terangkat, Golau Tatenggek (talotak)
Sebagai manusia Datuk sebagai seorang Penghulu tidak akan hidup selamanya, sehingga gelar tersebut tidak akan disandangnya lagi begitu ia meninggal dunia. Namun adat menyatakan ‘Datuk Mati Penghulu bagolau salamonyo, artinya seorang Datuk sebagaimana manusia lainnya tentu akan mengalami kematian namun jabatanya sebagai Penghulu akan tetap hidup, karena begitu ia meninggal maka jabatan akan dipindahkan ke lain sesuai dengan alur dan patut. Ramo-ramo sikumbang Jati, khotib ondah bakudo, patah tumbuo hilang bagonti, pusako lamo dipakai juo.

Pemilihan Penghulu pengganti dilaksanakan sebelum keranda diangkat ke pemakaman, biasanya digantikan langsung oleh Tungkatan/bayang-bayang yang sudah dipersiapkan namun kalau tidak ada maka anak kemenakan akan bermusyawarah mencari penghulu sementara hingga terpilihnya Datuk yang defenitif.

Kedua, Usia Lanjut (Tua) atau Ponek Bapa’ontian, Potang Bapamalaman
Seorang Penghulu mempunyai tugas mengayomi dan melindungi masyarakatnya, namun ada kondisi dimana seorang Penghulu tidak dapat melaksanakan tugas tersebut karena kondisi usia, dimana Bukik sudah indak tadaki, lurah indak taturuni, maka Ponek bapa’ointian dan Potang bapamalaman.

Maka jabatan tersebut diserahkan kepada penggantinya, apakah itu tungkatan/bayang-bayang yang sudah dikaderkan atau kapak gadai yang sudah ditentukan sesuai dengan alur dan patut.

Ketiga, Hidup Batungkek Bodi

Seorang Penghulu juga masyarakat yang mempunyai pekerjaan untuk menghidupi keluarganya, dan kadang-kadang pekerjaan itu mengharusnnya merantau ke negeri orang atau meninggalkan kampong halamannya. Dalam kondisi ini tugas dan tanggung -jawabnya dapat diwakilkan kepada tungkatan/bayang-bayang atau kapak gadai yang ditunjuk sebagai wakilnya, ini disebut dengan Hidup Batungkek Bodi, bapanjang jari.

Namun walaupun tugas dan kerjaannya sudah dilaksanakan wakilnya tersebut namun apabila ada masalah yang penting yang dikenal dengan Biang nan Manumbuok, Gontiong Nan Mamutuikan artinya ada masalah penting yang harus diputuskan maka wakilnya tersebut tidak dapat mengambil keputusan, wakil tersebut harus tetap mengirimkan surat atau mendatangi Datuk /Penghulu yang sebenarnya untuk meminta keputusan.

Keempat Hidup Bakarelaan

Walaupun pengangkatan Penghulu dipilih berdasarkan alur yang patut salah satunya Botuong tumbuoh dimato (berdasarkan garis keturuna), namun tidak mesti yang patut tersebut menjadi Ninik mamak. Karena kadang dalam alur keturunan tersebut tidak ada butuong tumbuoh dimato atau kalaupun ada tidak sanggup atau tidak bersedia dicalonkan menjadi penghulu dengan alasan yang tepat, maka dipindahkah ke perut yang lain dalam suku yang sama dengan catatan ada keikhlasan (kerelaan) dari anak kemenakannya dan sudah dimusyawarahkan, sehingga tidak ada muncul kondisi: umah sudah tokok pa’ek babunyi.

Kelima: Mencoreng Kening Sendiri
Jabatan Ninik mamak atau Penghulu dapat tanggal (lepas) karena Penghulu tersebut melakukan kesalahan, ada empat kesalahan yang bisa membuat lepasnya jabatan ini:

a. Tapijak dibenang arang
Penghulu melakukan kesalahan yang menimbulkan malu yang berhubungan dengan agama dan moral seperti melakukan syirik, murtad dari agama Islam, melawan orang tua.

b. Tatarung di Galah Panjang
Penghulu melakukan kesalahan yang menimbulkan malu yang berhubungan dengan manusia dan norma masyarakat dan hokum Negara, seperti berzina, merampok, berjudi, mabuk-mabukan, meremehkan/menodai kehormatan wanita, korupsi, fitnah, tidak adil, menikahi/melarikan istri orang, kemenakan kawin sesuku.

c. Takurung dibilik dalam
Penghulu dihukum penjara karena perbuatan criminal dan melanggar dua point diatas.

d. Tamandisi Pincuan Godang
Penghulu mengalami stresss, gila atau gangguan jiwa yang istilahnya disebut juga: Tapasontiong bungo nan kombang, tapanjiek lansek nan masak.

Inilah sebab/alasan yang menyebabkan seorang penghulu harus melepaskan gelarnya, namun selama lima hal ini tidak dilaksanakan maka jabatan itu akan dipegangnya seumur hidupnya.

Kampar 24 Maret 2010
-Ummu Bintang-

 

Ketika Balimau Kasai Digugat (Lagi….) Maret 17, 2010

Filed under: adat kampar — rinahasan @ 3:22 am
Tags: , , , , , , , ,

Harusnya Kita Sudah Tersadar

Ada hal yang menarik ketika  pertemuan antara kantor Depag Kampar dengan Pemkab Kampar di Bangkinang Jumat (12/3)  pekan lalu, dalam pertemyan ini Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Riau, Drs H Asyari Nur, SH, MM secara halus (namun mengenaaaa banget) memberikan kritik membangun tentang pelaksanaan acara budaya Balimau Kasai yang dinilainya beberapa tahun terakhir telah sedikit berubah dari tradisi balimau kasai sesungguhnya.

Menurut Ketua Tariqat Naqsabandy tersebut harusnya pihak-pihak berkompeten di Kabupaten Kampar seperti  Pemdakab, ninik mamak, tokoh agama, generasi muda mengemas acara balimau kasai itu jadi acara budaya bernuansa agama. ‘’Kan, aneh, bila pemuka adat tepatnya ninik mamak dan aparatur pemerintah melihat anak keponakan mandi-mandi di Sungai Kampar. Menonton orang mandi itu bukan bagian dari budaya balimau kasai, ujar Asyari Nur sambil tersenyum.

Dulu….menurutnya  pada awal acara balimau kasai yang diketahuinya saat salah satu muridnya datang kerumah guru ngaji untuk meminta maaf sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Sedangkan seluruh lapisan masyarakat secara sadar dan ikhlas mendatangi orang-orang tua di kampung, para tokoh agama dan tokoh adat untuk saling bermaaf-maafan dengan diiringi rasa kekeluargaan yang mendalam, kebersamaan yang hakiki yang diperlambang dalam bentuk makan bajambau.

’’ Jadi mengapa kedepan tradisi Balimau Kasai tidak dikemas dalam nuansa agama seperti menggelar acara khattam Al-Qur’an, pemberian santunan untuk anak yatim, pemberian bantuan untuk orang-orang miskin, bantuan untuk anak-anak berprestasi dibidang pendidikan atau pun pemberian penghargaan bagi pemuka agama dan tokoh masyarakat yang pantas diberi penghargaan atau memberikan modal usaha bagi keluarga miskin dan kegiatan gotong royong pembersihan tempat-tempat ibadah dan lembaga pendidikan agama serta melaksanakan acara hiburan bernuansa tradisi dan sekaligus bernuansa agama ’’ usulnya

Kritikan yang disampaikan  Kakanwil Depag ini sebenarnya bukan kritikan yang pertama tentang kegiatan Balimau Kasai, banyak pihak yang sudah mencoba mengingatkan tentang betapa Jauhnya tradisi budaya itu bergeser bahkan sudah tidak bisa disamakan antara balimau kasai dulu dan sekarang.

Tapi sayangnya gugatan demi gugatan bahkan yang disampaikan ulama sekalipun sepertinya tidak mampu membangun Pemkab atau masyarakat yang sudah tertidur dibuai dengan istilah event budaya (entah budaya mana itu…) Balimau kasai saat ini adalah kegiatan seremonial kedatangan pejabat baik tingkat propinsi atau kampar, lalu ada lomba sampan hias dan acara inti…mandi mandi..berbaur lelaki perempuan didepan Mamaknya, bersama ughang somondo, hilang sudah malu…….

Yang mengherankan ini malah digadang-gadangkan, walaupun sudah dibungkus dengan aneka lomba seperti lomba azan, rebana dan sebagainya namun kegiatan mandi bareng tetap acara utama..dan dikatakanlah ‘’ kegiatan pariwisata kampar ‘’  .

Pernyataan ini yang membuat saya heran..pariwisata dari mana? Wong ndak ada turisnya, jangankan turis luarnegeri..luar Kabupaten Kampar juga tak ada, kalaupun ada yang datang dari Pekanbaru ..itu ughang Kampar Juga. Lebay…..

Dan yang lebih heran lagi, dalam diskusi saya denga salah satu staff dinas pariwisata Kampar malah merencanakan akan memajukan pelaksanaanya dua atau tiga hari sebelum ramadhan, dengan alasan agar tidak menganggu sholat tarawih pada malam pertama ramadhan karena seremonial dengan pejabat cukup lama dan menyita waktu dan dengan lapangnya hari maka akan banyak kesenian yang bisa ditampilkan.

Walaupun alasannya kedengaran logis namun menurut saya preeeettttt….nggak mutu. Lha iya lah, balimau kasai itu bukanlah acara seremonial dan bukan untuk tari-tarian, namun esensialnya adalah pembersihan diri seperti minta maaf kepada orang tua dan saudara-mara, mengunjungi orang tua dan sanak yang laim. Lagipula siapa suruh melaksanakans eremonialnya petang hari..wong zaman dahulunya kegiatan dimulai pagi hari dimana para Ninik mamak dikenegerian naik ke balai adat dan saling berunding untuk kegiatan pembangunan setahun berikutnya…..lalu sekitar usai dhuha mereka pulang saling bersilaturahmi dan ba’da asyar mandi membersihkan diri ditepian masing masing….

Lalu darimana datangnya pacu sampan hias yang habisnya uang daerah berjuta-juta bahkan ratusan juta, darimana datangnya acar seremonial dan darimana datangnya mandi bareng? ……hmmmm jalan dianjak orang yang..ontahlah…

Banyak pihak sudah mengingatkan namun sayangnya yang tidur ini sangat lelap bahkan munkin ngorok sehingga tidak terdengar orang yang menjagakan, entahlah kalau dengan kritikan dari kakanwil depag ini..karena saat itu wajah wajah pejabat yang hadir cukup memerah..semoga ya Pak…….

Kampar 17 maret 2010

-Ummu Bintang-

 

Dadio, Minuman Khas Penambah Vitalitas dari Kampar September 7, 2009

Mumpung bulan puasa mungkin bicara minuman cukup menyenangkan, selain bisa menambah semangat untuk menunggu saat berbuka puasa juga menambah salah satu menu yang bisa dijadikan dalam daftar menu buka puasa, saya ingin membicarakan tentang ‘’Dadio’’.

‘’Dadio ‘’adalah sebutan untuk susu kerbau liar yang sudah dipermentasi, susu kuda liar ini bentuknya putih dan kenyal dan rasanya….hmmmmm cukup menggiurkan kalau sudah diolah dengan bahan makanan lain. Dadio ini biasanya dibuat oleh para gubalo (peternak) kerbau atau para peladang, susu kerbau tersebut dimasukkan dalam tabung buluo (bambuu) selanjutnya mengalami proses pembasian sendiri. Bambu ini dipotong dengan ukuran sejengkal lalu diatasnya ditutup dengan dauh pisag kering, aroma bamboo yang khas dan daun pisang kering ini tentunya menambah aroma dan  kelezatan dadio ini, biasanya dadio sudah dapat dikonsumsi sejak satu bulan dimasukkan ke bamboo namun layaknya anggur yang baik semakin lama masa permentasinya maka semakin tinggi mutunya dan semakin lezat rasanya….

Saya tidak tahu apa manfaat susu ini secara ilmiah, namun bagi masyarakat Kampar susu kerbau ini sangat popular apalagi pada zaman dahulu, saya masih ingat waktu kecil Dadio ini selalu menjadi barang wajib dalam hantaran belanja dalam suatu pernikahan. Konon katanya Dadio ini memberikan manfaat besar bagi vitalitas sang pengantin. Benar atau tidak….sayangnya saya tidak tahu pasti.

Namun yang jelas kalau dikaji kaji (ini sok pintarya saya saja lho yaa), memang banyak minuman ’’ penambah perkasa ’’ berasal dari susu hewan liar, seperti susu kuda liar dan sebagainya, mungkin ini bisa menjadi salah satu alasan kenapa dadio yang berasal daro kerbau ini juga diyakini mampu menjadi minuman penambah vitalitas terutama untuk kaum pria (untuk menguatkan tidak ada salahnya mencoba he he he)

Namun yang jelas, tingkat kolesterol minuman ini sangat tinggi, maka dianjurkan bagi yang mempunyai masalah dengan tensi darah atau kolesterol untuk berhati-hati menkonsumsinya apalagi dalam jumlah yang besar. Dadio juga banyak dimanfaatkan untuk obat seperti obat asma, darah rendah dan baik bagi ibu yang menyusui.

Lepas dari itu, Dadio ini menjadi minuman yang khas di Kampar, dan saat ini masih banyak ditemukan di beberapa pasar tradisional dan harganya ..lumyan murah, hanya Rp 4.500/tabung. Dan dari satu tabung bisa dapat banyak minuman atau makanan lho, karena untuk mendapatkan minuman yang lezat Dadio tidak langsung dikonsumsi begitu saja namun diolah  dengan makanan lain, seperti untuk kolak Dadio, dado dicampur dengan santan dan gula merah (lebih enak kalau gula aren asli), takarannya 3:1 artinya lebih banyak santan dan gulanya daripada Dadionya.

Dadio ini bisa juga diolah menjadi sirup, seperti yang tampak dalam gambar dimana sirup yang manis diberi tambahan dadio..kalau dicoba rasanya…hmmmm menyegarkan juga.  Minuman sirup dadio ini sudah dijadikan dinas perindustrian Kampar sebagai salah satu minuman khas Kampar dan dijual dipasar salah satunya menjadi menu di Labersa Hotel di SiakHulu. Penasaran…?  kunjungi saja Labersa.

Namun yang terpenting adalah..bagaimana kita melestarikan ini, untung-untung kalau kita bisa mengembangkannya menjadi lebih baik  seperti minuman yang punya nilai jual yang tinggi, selain bisa meningkatkan minuman khas ini juga bisa membantu masyarakat kita si pembuat dadio……., nah kenapa tidak mencoba untuk menu buka puasa….selamat mencoba

Kampar, ramadhan 1430 H/7-sept-009

 

Agustus 29, 2009

Filed under: adat kampar — rinahasan @ 4:16 pm
Tags: , , , , ,

Tungku Tiga Sajorangan atau Tungku Tiga Sajorangan?

pusat budaya_resize

Dalam adat Kampar ada suatu istilah yang dikenal  dengan Istilah Tiga Tungku Sajorangan dan Tali Nan Bapilin Tigo,  ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan keberadaan tiga elemen penting yang mengatur pemerintahan dan kemasyarakatan di Kampar, tiga elemen tersebut adalah adat  melalui  perangkat adat yaitu Ninik Mamak, Hukum melalui aturan negera dan pemerintah dan Agama melalui alim ulama. Tiga elemen ini merupakan three in One, menyatu dalam kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya dalam mengayomi masyarakat dan menjadi panutan masyarakat.

Namun saya tidak akan membicarakan tentang fungsi dan keberadaan elemen ini, namun mengenai pemakaian kata ’’ Tungku Tiga sajorangan, ’’ karena kata ini sangat familiar dan sering  digunakan dalam berbagai ungkapan dalam pertemuan adat seperti dalam basiacuong pasombahan, pituah dan nasehat adat, pidato pejabat bahkan dalam liputan berita oleh media. Istikah Tungku Tiga sajorangan dan Tali  nan Bapilin Tigo menjadi sangat akrab.

Namun suatu sore saya dalam suatu silaturahmi dengan beberapa pemuka adat di Kampar seorang penghulu dari kenegerian XIII Koto Kampar mendekati  saya dan berkata ’’ Nak saya mau diskusi tentang kata ’’Tiga Tungku sajorangan yang sering kita ucapkan bahkan sering ananda tulis, karena menurut saya itu kurang tepat ’’ujarnya. Saya memberikan perhatian serius dan berkata ’’benarkah?’’.

Penghulu yang bergelar Dt Atin tersebut menjelaskan, maksud yang ingin disampaikan dalam kata ini adalah tiga elemen yang ingin digambarkan menjadi satu, ibarat sebuah tungku yang tidak akan bisa tegak berdiri kalau salah satu tiangnya hilang. Dan Tungku memang selalu terdiri dari tiga tiang sehingga bisa berdiri kokoh dan menopang wadah makanan diatasnya, itulah tiga elemen adat, hukum dan agama yang harus dilaksanakan ketigannya sehingga masyarakat itu menjadi kokoh.

Nah persoalannya adalah pengertian  kata ’’tiga ’’, diketahui bahwa satu tungku harus tiga tiang baru bisa menjadi satu badan jorangan atau sajorangan, maka kalau digunakan kata ’’Tiga tungku sajorangan, ’ maka tiangnya akan menjadi sembilan, karena satu tungku mempunyai tiga tiang maka tiga tungku kalikan dengan tiga tiang maka menjadi sembilan. ’’sehingga saya rasa kata tiga tungku sajorangan adalah kurang tepat namun yang benar adalah… Tungku Tigo sajorangan  artinya satu tungku mempunyai tiga tiang baru bisa menjadi wadah sajorangan ’’ jelasnya.

Alamak…padahal selama ini saya sangat sering mengucapkan atau menulis kata ’’Tiga tungku ’’ bukannya ’’Tungku tiga ’’, seperti memahami fikiran saya Dt Atin mengatakan ’’Tak apa Nanda, karena bukan hanya nanda, banyak spanduk, baliho dan bahkan pidato pejabatpun yang mengucapkan kalimat seperti itu, namun seperti petuah lama sesat ditengah jalan balik ke pangkal jalan….. mulai sekarang perbaiki itu, ’’ujarnya bijak.

Yaa..bagi anda yang mungkin sudah membaca dan melapazkan kalimat itu dengan baik barangkali tulisan ini tidak begitu menarik namun bagi saya ini suatu peringatan agar kedepan saya lebih berhati hati dalam menulis atau mengucapakan kalimat petuah adat.

Dalam perjalanan pulang saya berfikir ; kalau begitu bagaimana dengan penggunaan kalimat ’’Tali nan Bapilin tigo? ’’ karena kalimat ini mempunyai maksud dan mana yang lebih kurang sama dengan Tinga tungku eeh….Tungku Tigo sajarongan, bukankan yang dipilin itu sebenarnya tiga tali bukannya tali yang dipilin sebanyak tigo kali?, tigo tali itu adalah Ninik Mamak, Pemerintah dan Ulama yang harus selalu erat bersatu untuk mengikat persatuan masyarakat, pilinnya boleh berulang ulang kali tidak harus tiga, karena kalau hanya tiga manalah kokoh sampai ke ujung ’’Kalau begitu yang benar adalah ’’Tali Tigo sapilinan atau Tali Tigo nan Bapilin? ’ tanya saya dalam hati. Wah kalu begitu saya masih salah juga selama ini.

Sayangnya Dt Atin bukan bersama saya lagi sehingga saya tidak bisa mengkomfirmasikan jawabannya, atau anda punya jawaban untuk saya?

Kampar, 30 Agust 2009