Catatan rdh

menggambarkan apa yang dilhat, menyampaikan apa yang didengar dan meluahkan apa yang dirasa

PILIH ANAK LELAKI ATAU ANAK PEREMPUAN???? November 15, 2011

‘’Iyaa… Mama Angga, anak gadisnya pak Sofyan itu lho…yang masih kelas satu SMP itu ‘’ ujar salah satu perempuan pada temannya, sambil berceloteh riang mereka menuju ketempat bangku taman yang aku duduki. Temannya yang disamping melambaikan tangan dan mengisyaratkan permohonan untuk minta izin duduk bergabung denganku.
Dengan setengah hati aku membalas lambaiannya dan menggeser dudukku segera. Tiga wanita ini segera mengambil tempat duduk, disekeliling meja batu yang dibuat ditengah taman. Ini adalah salah satu hal yang sebenarnya tidak kusukai, berada ditengah para wanita yang suka menggosipkan orang lain. Namun bagaimana lagi, taman ini milik umum dan aku tidak bisa mendominasi tempat duduk sendirian, apalagi ada empat cukup tempat untuk empat orang. Selain itu aku tidak mau mengecewakan Bintang, aku sudah berjanji akan menemaninya dalam acara senam massal ini. Tidak setiap hari aku menemani Bintang disekolah seperti para orang tua TK lainnya, dan aku tidak akan pulang hanya karena gosip mereka ini. Maka dengan separuh ikhlas dan separuh kesal aku memberikan senyum ramah kepada mereka.

‘’Sudah dengarkan Bunda Bintang?, itu lho cerita anaknya pak Sofyan yang kemarin dirapatkan desa ‘’ ujar salah satunya padaku. Aku mengangguk pelan, yaa..mau tidak mau harus terlibat acara infotaimen desa ini. Ibu itu tersenyum prihatin seakan-akan akulah objek yang dibicarakannya.

‘’Sunggu tidak sangka ya, anak yang begitu santun, lemah lembut dan cantik tega berbuat seperti itu. Kalau anak saya begitu munkin saya sudah pingsan karena stress ‘ujarnya mengusap dada. Yah aku juga perihatin dengan kejadian itu. Seorang remaja yang membuat geger kampung karena ternyata sudah hamil enam bulan oleh pacarnya, padahal mereka masih sangat belia.

‘’Saya dengar orang tuanya pingsan kok bu, malah sampai jatuh sakit segala ‘’ ujar temannya yang tadi panggil Mama Angga.
‘’Ya iyalah…orang tua mana yang tidak pingsan kalau anak gadisnya begitu, malah bisa mati berdiri. Mama Angga sih enak, anaknya cowok semua. Nah anakku, dua yang cewek, sudah hampir tamat SD lagi. ‘’ Jawabnya. Perhatianku sekarang terusik.
‘’Memangnya kenapa Bu, kalau anaknya cewek?, apa hubungannya? ‘’tanyaku. Dan kali ini bukan basa-basi.

‘’Duh….. Bunda Bintang ini. Lebih pusing punya anak cewek lho… Punya anak jelek dikatain ndak bisa merawat, punya anak cantik..eh kecil-kecil dah dilirik orang. Trus bagaimana kalau dia pacaran..kitanya ndak tahu. Eee…tiba-tiba hamil. Kan.. kita malu Bunda Bintang. Yang anaknya cowok mah enak, ndak ada resiko apa-apa, tetap utuh, bisa petantang-petenteng sana sini. Lha..Anak gadis kita, walaupun tidak hamil, ya ndak perawan lagi, belum malunya itu lho..bisa ndak laku-laku dia karena orang sudah tahu aibnya , bagaimanapun orang-orang tetap menyalahkan siceweknya..‘ ujarnya nyerocos.

Aku memandangnya sedikit takjub, memang begitukah? Aku yakin Ibu sungguh tidak bicara dari pandangn feminisme sehingga dia meletakkan perempuan sedemikian rupa dibandingkan lelaki. Aku yakin ini hanyalah kecemasan seorang Ibu yang punya dua anak perempuan yang sedang beranjak remaja.

‘’Tapi punya anak cowok juga riskan lho Mama Widya’’ balas Mamanya si Angga tadi. ‘’Coba bayangkan, kalau yang jadi cowoknya anak kita, kita sekolahkan baik-baik, kebutuhannya dipenuhi. Eee..tahunya menghamili temannya sendiri. Mau dinikahin, masih kecil. Jangankan biaya untuk anak bini, untuk diri sendiri masih belum bisa nyari. Kan akhirnya kita juga yang mesti biayain anak istrinya.
Nah itu kalau orang tua cewek itu setuju untuk dinikahin. Kalau ndak…, anak kita dilaporkan kepolisi, trus masuk penjara. Sekolahnya hancur, masa depannya juga suram. Belum lagi kalau dipenjara itu dipukuli atau dianiaya. Duh..saya malah ngeri bu…selama ini kita menjaganya hati-hati bahkan dari gigitan nyamuk, sekarang malah harus mendekam dengan segala siksaaan dipenjara. Belum lagi kalau mereka narkoba, ngebut-ngebut dijalan trus pulangnya sudah jadi mayat, jangankan makan, hiduppun rasanya tidak bisa ‘’ urainya panjang lebar. Sekarang saya yang malah menatap mereka berdua dengan pandangan terpana, sungguh mengerikan.


‘’Bunda Bintang bagaimana ‘’ tanya Mama Angga mengagetkanku dari keterpanaan itu. Dan jujur saja saya bingung harus menjawab bagaimana.
‘’Saya senang punya anak lelaki, seperti Bintang. Munkin karena saya hanya punya satu anak saja. Namun kalau diberi rezeki anak lagi, saya ingin anak perempuan. Soalnya baju dan bando anak cewek cantik-cantik ‘’jawabku pelan. Aku tahu mereka bingung dengan jawaban yang asalan, dan tidak ada korelasinya dengan pertanyaan mereka. Untunglah Yunita, salah satu dari mereka yang dari tadi diam saja membantuku.

‘Bagi saya..punya anak perempuan dan laki-laki sama bahayanya Mama widya, karena mereka sama sama punya peluang untuk berbuat hal seperti itu. Kan ndak munkin ada yang hamil tanpa menghamili, soal narkoba atu ngebut di jalanan, sekarang bukan hanya anak lelaki lho..anak perempuan juga banyak yang begitu ‘’.

‘’Tapi masih mending anak lelaki Bu Yunita, kalau anak kita cewek masih diancam dari orang sekitarnya. Kan sekarang kita dengar ada ayah yang cabuli anaknya sendiri, bahkan ada kakek yang hamili cucunya, ih..ngeri ‘’ Jawab Mama Widya Ngotot.
‘’Yee..sama aja Mama Widya, anak lelaki juga sering disodomi ama anak tetangga, diajarin merokok, bahkan banyak yang jadi preman ‘’ jawab Mama Angga tak kalah ngotonya.
‘’Makanya itu tergantung kita semua, para orang tuanya ‘’ jawab Yunita Menengahi.

‘’Kita memang tidak bisa lengah, saat ini ada komputer dengan internet yang bisa membuat anak kita menonton apa saja. Sekarang ada film dan video porno yang dijual bebas. Belum lagi narkoba yang dijual dimana saja mulai dari harga murah sampai harga mahal. “. Yunita menarik nafas, mencoba melihat reaksi dua wanita itu. Karena keduanya masih terdiam, iapun melanjutkan.

‘’Sekarang juga beli kendaraan mudah, bayar depe lalu bisa dikredit. Nah..kita yang bingung,, ndak dibelikan kok kita kesannya pelit. Tapi kalau dibelikan ntar dipakai ngebut pulangnya jadi mayat, iya kalau langsung mati..kalau cacat seumur hidup?. Tapi disitulah letaknya seni jadi orang tua. Asal ita bisa mengajarkannya agama yang cukup, memberikan contoh tauladan yang baik, dan kasih sayang yang sempurna, saya yakin..anak-anak itu akan tumbuh dengan baik. Toh kita dulu juga anak-anak dan godaan juga banyak. Tapi sekarang kita baik-baik saja bukan? ….

Aku tidak lagi menyimak keterangan Yunita, bahkan aku seperti tidak mendengar gosip mereka selanjutnya. Mata dan fikiranku serang tertuju sepenuhnya pada Bintang. Bintangku yang ringkih dan lemah tampak sangat gembira senam bersama guru dan teman-temannya. Siapakah yang bisa menjamin Bintang tidak akan terjerat narkoba nantinya? Atau siapakah yang bisa memastikan Bintang tidak akan celaka karena kebut-kebutan di jalan?. Aku tidak berani melanjutkan fantasi gila itu. Jujur saja…aku tidak tahu akan berbuat apa, kalau nanti Bintang menghamili teman sekelasnya..duuuh….Robb jangan sampai.

Sementara dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku menyadari. Aku bukanlah Ibu yang baik apalagi sempurna untuk Bintang. Aku belum memberinya ilmu agama yang cukup, apalagi memberikan contoh teladan yang tepat. Kehidupan memaksaku harus membagi waktu antara Bintang dan pekerjaan dan sangat sulit untuk memberi porsi yang adil bagi keduanya.

Yunita memang benar..semuanya tergantung kepada orang tuanya. Bagaimanapun juga, orang tualah yang membentuk anaknya menjadi hitam atau putih, dan disinilah letaknya seni…seni sebagai orang tua. Toh memang banyak perangai buruk anak yang membuat sedih orang tua, bahkan memalukan orang tuanya. Namun lebih banyak lagi anak-anak yang memberikan rasa bangga pada orang tuanya.

Ku pejamkan mata dan menyusupkan doa terdalamku pada-Nya..Robbiii ..kuserahkan penjagaan Bintang pada-Mu. Jagalah Bintang..karena kuyakin tidak ada penjaga sebaik diri-Mu. Kuatkanlah Bintang untuk bisa menahan godaan dan bisa memilih yang terbaik dalam hidupnya. Robb..aku memang menginginkan Bintang akan jadi orang sukses kelak dalam hidupnya, menyelesaikan pendidikanya, karier yang bagus, harta yang melimpah dan istri yang sholehah. Namun lebih dari semua itu..aku sangat mendambakan ..memiliki Bintang yang sholeh, yang taat mengejar ridho-Mu, yang mengabdi dalam cintanya padaku dan bijaksana dalam memberikan manfaat bagi sekitarnya

Robbi…beri aku kekuatan untuk mengawal dirinya untuk tumbuh dan dewasa, berilah aku petunjuk seperti Kau memberikan petunjuk pada Ibrahim..Ayah Ismail, beri aku ketegaran seperti ketegaran Sarah..Mamanya Ismail, dan beri aku hikmah cinta yang luar biasa..seperti cinta Muhammad papanya siti Fatimah…, Robbi…kuserahkan hidupku dan hidup putraku pada kepada rahmat-Mu dan naungan cintaMu. Amien.

Kampar, 12-11-11

 

Bisa Jalan = 6 pasar + selusin sepatu + seekor Kambing November 3, 2008

Filed under: Hari-hari Bintang — rinahasan @ 1:20 am
Tags: , , ,

Bisa melihat anak berjalan dan berlari merupakan kebahagiaan setiap orang tua dan bukan hanya itu bisa berjalan dan berlari dengan lincah juga menjadi kebanggaan sendiri, begitu juga bagi putraku Sahrul Putraku Bintang, bahkan bagi pangeranku ini bisa melangkah dengan dua kakinya yang mungil berarti mengunjungi enam lokasi pasar tradisional dan selusin sepatu baru, serta makan gulai Kambing bersama. Lho kok bisa…?

Formula ini diberikan oleh keluargaku sebagai bentuk pengharapan dan syukur mereka kalau anakku bisa berjalan, Nazar ini diberikan sebagai bentuk doa agar anakku bisa berjalan dengan segera karena selama ini ia mempunyai keterbatasan secara fisik. Saat bocah sebayanya bisa berjalan pada umur delapan bulan atau umur setahun putraku hingga umur empat tahun belum juga bisa berjalan.

Kelainan tulang punggung belakangnya membuat pertumbuhan Bintang terlambat dibandingkan teman-temanya, segala daya dan upaya dilakukan untuk menyembuhkannya, dan selama penyembuhan dan pemulihan selama itu pula kami berharap, berdoa bahkan sedikit beriri hati.

Ibuku yang juga neneknya Bintang bahkan terang terangan menyatakan keirian tersebut, ia bahkan mengakui sangat benci dan cemburu apabila melihat anak anak lain seumur Bintang sudah berjalan apalagi berlari, ‘’ rasanya sudah tidak tahan dan rasanya ingin meledak saja karena sedih dan cemburunya, ‘ujar Ibuku. Hal yang sama juga dirasakan oleh saudara saudaraku yang lain, hanya saja mereka lebih bisa menahan perasaan mereka atas kekurangan ponakannya ini,bentuk harapan ini ditujukan dengan semangat dan rajinnya mereka dalam mengobati Bintang.

Nah dalam usaha doa dan harapan ini keluargaku juga lah lahir formula : Jalan = pasar + sepatu + kambing. Dalam keluargaku kami terbiasa menazar (kaul) untuk mendapatkan sesuatu, namun ini hanyalah sebagai teman dari doa dan harapan yang kami inginkan. (more…)

 

Pelukan Sebelum Tidur Oktober 24, 2008

Filed under: Hari-hari Bintang — rinahasan @ 4:55 pm

Bintang adalah sosok yang selalu menemaniku tidur, dan sebagai seorang Ibu tentunya kebahagiaan tersendiri bisa menemani putra sebelum tidur, waktu waktu menjelang tidur adalah waktu yang menyenangkan dan membahagiakan bagi Kami. BIasanya sesuadah makan malam atau sepulang dari kerja (kalau aku pulang terlambat) kami berdua bermain di Kamar.

Dengan TV menyala (namun tidak diperhatikan) aku dan Bintang bermain, dimulai dengan bercerita tentang yang kami alami hari ini, aku slalu bertanya BIntang main apa dengan Nenek hari ini? Dan setelah sekolah aku bertanya tadi disekolah diajarin nyanyi apa oleh bu guru?. Main apa aja? Dan lainnya..

Usai itu kami bermain, menyusun balok angka ke wadahnya, bermain kereta api dan membaca buku..Bintang belum bisa membaca namun ia suka melihat buku yang bergambar dan membaca sesuai yang ada dalam fikirannya. Tak jarang kami bergelut, saling mengelitik hingga ia menjerit jerit minta ampun karena kegeliaan.

Dan ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul 20 :30 aku mengajak Bintang berdoa, lalu membaca surat al-Ihklas dan Fatihah sebagai rangkaian doa sebelum tidur. Usai itu Bintangku itu akan memejam matanya dan aku mengusap punggungya atau kepalanya hingga ia benar benar terlelap.

Maka malam malam seperti itu adalah malam yang menyenangkan dalam hidupku, karena saat itulah waktu yang benar benar dapat kunikmati berdua dengan anakku, dan Bintang sepertinya juga menyadari hal itu, setiap malam ia akan menolak bermain dengan saudara sepupunya yang lain dan segera mengajakku ke kamar untuk kebersamaan yang menyenangkan itu.

Dulu Bintang selalu akan tidur kapan saja ia mengantuk, namun sudah hamper setahun ia Bintang mempunyai pola tidur sendiri, ia baru akan tertidur kalau aku sudah bersamanya. Biasanya kalau aku banyak kerjaan maka ia akan tidur sendiri, namun sekarang tidak bisa, kalau aku masih asyik dengan buku dan laptop maka Bintang akan bermain dan tidak mau tidur, akibatnya ia akan bergadang dan paginya susah bangun..

Sejak menyadari hal ini aku selalu berusaha menemaninya tidur dulu…aku baru akan memulai kerja kalau ia sudah tidur, karena Bintang selalu tidur dengan tangannya yang memelukku, dan terkadang tengah malampun ia tidur dengan memelukku erat.

Duh.anaakku sayang..indahnya kebahagiaan bersamamu ini……

24 syawal 1429 Hijriah/24 Okt 2008

 

Mirip dengan Abah Bukan…? September 27, 2008

Filed under: Hari-hari Bintang — rinahasan @ 5:19 am

Memakai pakaian atau baju bukanlah hal yang menyulitkan bagi Bintang, selama ini dia selalu mau kalau dipakaikan baju apa saja, ini agak berbeda dengan sepupunya yang lain yang selalu memilih pakaian yang akan mereka pakai. Syukurnya selama ini Bintang tidak begitu.

Hanya saja sekarang mulai berubah… (more…)

 

Bintangku Mulai Tarawih

Filed under: Hari-hari Bintang — rinahasan @ 5:18 am

Ramadhan 1429 Hijriah bertepatan dengan September 2008 adalah bulan ramadhan pertama Bintang mengikuti tarawih, awalnya….Bunda tidak membawanya ke mesjid karena takut akan menganggu jemaah lain sehingga Bunda hanya sholat tarawih di rumah saja, disaat Bintang sudah tidur atau kalau asyik bermain.

Namun hari ke lima pada ramadhan ini Bunda berfikir : kenapa tidak? Bukankah Bunda menginginkan Bintang menjadi anak yang sholeh? Bukankah Bunda ingin Bintang suatu saat nanti menjadi Ustad atau ulama? Bukankah Bunda ingin sekolahlah Bintang ke Madinah? Lalu kenapa tidak dimulai sekarang? (more…)